Penemuan Braille: Mengubah Kesulitan Menjadi Kemudahan Disabilitas Netra Dalam Belajar

Bagikan Postingan Ini !!!
Gambar berisi sepasang tangan yang sedang menulis dengan alat tulis braille stilus dan riglet.

Penemuan Braille: Mengubah Kesulitan Menjadi Kemudahan Disabilitas Netra Dalam Belajar

Hhalo, Guys. Terlebih dahulu kami mengucapkan selamat hari braille internasional Yang diperingati setiap tanggal 4 januari.
Ohya, sebagian dari kita pasti pernah menggunakan, atau setidaknya mendengar/melihat apa yang disebut braille. Khususnya penyandang disabilitas netra atau indifidu yang memiliki gangguan penglihatan, baik yang parah maupun tidak. Akan tetapi, dalam hal ini yang minus tidak termaksud ya, melainkan mereka yang penglihatannya tidak dapat lagi berfungsi sebagaimana mestinya meskipun diberi alat bantu. Karena Braille lebih diancurkan kepada mereka yang kondisi penglihatannya sudah parah, ataupun para disabilitasnetra total. Adapun mereka yang dengan sisa penglihatannya masih cukup untuk melihat huruf awas, memang tidak begitu dianjurkan. Namun, jika ingin mempelajaridan menggunakan Braille pun bukan masalah.

 Ohya, *Guys*, mungkin masih ada yang bertanya-tanya, sebenarnya, apa sih Braille itu, berikut penjelasannya.

Jadi, Huruf Braille adalah sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh disabilitasnetra. Sistem ini diciptakan oleh seorang Prancis bernama Louis Braille. Beliau ini mengalami kebutaan saat berusia tiga tahun.
Sementara jika kita tinjau dari pendapat ahli yaitu Menurut Taylor, Smiley&Richard (2009:303) Braille adalah salah satu sistemkomunikasi bagi seseorang yang memilikikebutaan atau kurang penglihatan, jugasistem membaca dan menulis yangmengandalkan sentuhan alih-alih penglihatan, dengan menggunakanserangkaian titik yang mewakili berbagai huruf alfabeth. Hal ini sejalan juga dengan pendapat Fieman & Maneki (1995: 137) yang menyatakan bahwa Braille adalah sistem untuk membuat huruf, angka, dan tanda baca dari pengaturan titik-titik.
Jadi, bisa kita sempulkan bahwa Braille adalah sistem penulisan dan pembacaan taktil yang menggunakan kombinasi titik-titik timbul untuk melambangkan huruf, angka, tanda baca, dan kata bagi penyandang disabilitas netra atau orang yang mengalami keterbatasan dalam penglihatan. Braille dapat digunakan untuk menuliskan hampir semua bahasa, notasi musik, dan simbol matematika.

 Guys, selanjtnya, bagaimana sejarah Braille?

Nah, Guys, Sejarah braille ini bisa dibilang cukup menyedihkan. Di tengah-tengah munculnya teknologi digital, syukurnya perhatian dunia tetap ada unytuk braille. Terbukti dengan adanya keyboard braille pada pengaturan telepon pintar. Jadi, masih banyak orang yang bisa menggunakannya.

 Nama braille ini diambil dari nama seseorang di prancis sana, yaitu Louis Braille. Sebab, dialah yang pertama kali mengenalkan huruf braille . Ohya, sekadar informasi, Louis Braille ini merupakan anak seorang penjahit sepatu.

 Awalnya, Louis bukanlah disabilitasnetra. Akan tetapi, saat dia sedang bermain di bengkel kerja bapaknya, mata Louis terkena pisau. Hal itulah yang menjadi penyebab kebutaan pada matanya. Pada Mulanya,  sebelahmata saja. Kemudian karat dari pisau itu pun merambat ke mata yang sebelah lagi.

Berikutnya adalah Dari mana braille menemukan tulisan untuk disabilitasnetra ini?
Nah, Guys, Munculnya inspirasi untuk menciptakan huruf-huruf yang dapat dibaca oleh disabilitasnetra ini berawal dari pertemuan Braille dengan seorang bekas perwira artileri Napoleon, Kapten Charles Barbier. Barbier menggunakan sandi berupa garis-garis dan titik-titik timbul untuk memberikan pesan ataupun perintah kepada serdadunya dalam kondisi malam gelap. Pesan tersebut dibaca dengan cara meraba rangkaian kombinasi garis dan titik yang tersusun menjadi sebuah kalimat. Sistem itu dikenal dengan sebutan night writing atau tulisan malam.
Demi menyesuaikan kebutuhan para tunanetra, Louis Braille mengadakan uji coba garis dan titik timbul Barbier kepada beberapa kawan tunanetra. Pada kenyataannya, jari-jari tangan mereka lebih peka terhadap titik dibandingkan garis sehingga pada akhirnya huruf-huruf Braille hanya menggunakan kombinasi antara titik dan ruang kosong atau spasi. Sistem tulisan Braille pertama kali digunakan di L Institution Nationale des Jeunes Aveugles, Paris, dalam rangka mengajar siswa-siswa tunanetra.

 Dalam memperkenalkan temuannya ini, Braille sendiri banyak mengalami tantangan kala itu. Baik tantangan dari pihak sekolah, maupun tantangan dari pemerintah.

Kontroversi mengenai kegunaan huruf Braille di Prancis sempat muncul hingga berujung pada pemecatan Dr. Pignier sebagai kepala lembaga dan larangan penggunaan tulisan Braille di tempat Louis mengajar. Karena sistem baca dan penulisan yang tidak lazim, sulit untuk meyakinkan masyarakat mengenai kegunaan huruf Braille bagi kaum tunanetra. Salah satu penentang tulisan Braille adalah Dr. Dufau, asisten direktur L Institution Nationale des Jeunes Aveugles. Dufau kemudian diangkat menjadi kepala lembaga yang baru. Untuk memperkuat gerakan anti-Braille, semua buku dan salinan yang ditulis dalam huruf Braille dibakar dan disita

Baca juga:  Ketika Dunia Melambat, Kami Masih Berjuang: Refleksi Hari Disabilitas 2025 dari Suara Aktivis Disabilitas

Lalu, Kapan braille ini jaya lagi?
Braille muncul atau diakui kembali menjelang tahun 1847. Sistem tulisan tersebut diperbolehkan kembali Karena perkembangan murid-murid tunanetra yang begitu cepat sebagai bukti dari kegunaan huruf Braille.

 Pada tahun 1851, tulisan Braille diajukan pada pemerintah negara Prancis agar diakui secara sah oleh pemerintah. Sejak saat itu, penggunaan huruf Braille mulai berkembang luas hingga mencapai negara-negara lain.

Pada akhir abad ke-19, sistem tulisan ini diakui secara universal dan diberi nama tulisan Braille . Pada tahun 1956, Dewan Dunia untuk Kesejahteraan Tunanetra (The World Council for the Welfare of the Blind) menjadikan bekas rumah Louis Braille sebagai museum. Kediaman tersebut terletak di Coupvray, 40 km sebelah timur Paris.
Tulisan braille mulai digunakan di Indonesia beberapa tahun setelah diakui secara resmi di L’institution Nationale des Jeunes Aveugles, sekolah tunanetra di Paris.

Baca juga:  Jangan Lupakan Tulisan Timbul, Meskipun Pembaca Layar Telah Muncul

Jenis-jenis Huruf Braille yang Dikenal Dunia
Ternyata huruf braille banyak jenisnya lo, Guys. Hingga kini, huruf braille telah berkembang pesat. Setidaknya terdapat tiga jenis huruf braille yang sudah dikenal secara global.

Braille ASCII
Pada mulanya, Braille ASCII digunakan di Amerika Utara. Braille ASCII memiliki 64 karakter ASCII untuk mewakili semua kemungkinan kombinasi titik dari enam titik Braille.
Meskipun Braille ASCII pada dasarnya lebih mirip dengan kode mate-matik Nemeth Braille, tetapi Braille ASCII dirancang menjadi sarana penyimpanan dan pengiriman data secara digital.

Braille Jepang
Di Jepang, huruf braille dikenal sebagai tenji yang secara bahasa berarti titik. karakter. Braille Jepang adalah vokal yang berbasis abiguda.
Dalam penulisannya, huruf vokal ditulis disudut kiri atas sedangkan konsonan ditulis dipojok kanan bawah
Terdapat 4 titik untuk penanda, yaitu titik vokal dan simbol vokal yang terdapat di bawah blok. Pada huruf kana, penulisannya dengan menambahkan diakritik yang disebut dakuten seperti dalam gi ?. Demikian pula dengan p yang berasal dari huruf h yang ditambahi lingkaran kecil, handakuten. Duakana bergabung menjadi satu suku kata tunggal dengan tulisan kedua yang lebih kecil seperti dalam ??kya, ini disebut Yoon.
Namun, dalam penggunaan tanda baca, Braille Jepang, pada umumnya menggunakan tanda baca braille yang asli.

Braille Korea
Tahun 1894, Dr. Rosetta Sherwood Hall mengembangkan huruf braille menggunakan 4 titik. Akan tetapi, padatahun 1926, Park Du-Seong mengubah bentuk menjadi 6 titik.
Keunikan Braille Korea terletak pada sistem grafis lainnya di dunia karena khusus mencerminkan pola huruf hangeul. Hal tersebut menyebabkan konsonan awal, vokal, dan konsonan akhir terjadinya kombinasi. Namun, untuk karakter angka dan tanda baca, Braille Korea masih memiliki sistem yang sama dengan Braille yang asli.

 Di Indonesia, kita menggunakan braille yang asli dari prancis yang kemudian dikembangkan oleh bapak soeharto. eitz,bukan pak soeharto presiden ya, *Guys*. Ohya, beliau-beliau ini sama-sama prajurit lo. Akan tetapi, Nasib bapak soeharto yang tunanetra ini tidak sebaik pak Soeharto yang satu lagi. karena beliau mengalami kecelakaan bom saat berusia 20 tahun, yang kemudian menjadi penyebab keterbatasan penglihatannya

 Ohya, *Guys*, Beliau mengembangkan tulisan braille lantaran terinspirasi dari penemu braille asli. Beliau juga dinobatkan sebagai Bapak Braille Indonesia karena telah merintis pembakuan sistem tulisan braille. Selain itu, beliau juga telah mengembangkan sistem tulisan singkat braille Indonesia yang dibakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1968.

Pak Harto juga mengajarkan braille kepada para calon guru dan guru-guru Pendidikan Luar Biasa atau PLB dari tahun ke tahun.

Baca juga:  Denting Waktu yang Telah Melaju

Tantangan dan Solusi dalam Menulis Braille

 Meskipun Braille adalah alat yang sangat berharga, mempelajari cara menulisnya memerlukan waktu dan latihan yang intensif. Salah satu tantangan terbesar adalah mempelajari dan mengingat kombinasi titik-titik yang berbeda. Namun, dengan bimbingan yang tepat dan latihan yang konsisten, siapapun dapat menguasai keterampilan ini. Untuk mendukung pembelajaran Braille, berbagai alat bantu telah dikembangkan, mulai dari papan Braille manual hingga mesin tulis Braille yang lebih canggih. Teknologi modern juga telah membawa Braille ke tingkat yang lebih tinggi, dengan perangkat digital yang memungkinkan tunanetra untuk mengetik dan mencetak dalam Braille, serta membaca teks elektronik yang dikonversi ke dalam Braille.

Masa Depan Braille dan Aksesibilitas

Dengan kemajuan teknologi, aksesibilitas bagi tunanetra semakin meningkat. Namun, Braille tetap menjadi fondasi penting dalam literasi tunanetra. Braille bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang memberikan tunanetra alat untuk mengejar pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang bermakna.
Oleh karena itu, penting untuk terus mendukung pengajaran dan penggunaan Braille di masyarakat. Dengan memahami pentingnya menulis Braille, kita dapat lebih menghargai peran vital yang dimainkan sistem ini dalam kehidupan tunanetra, dan bekerja bersama untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif dan aksesibel bagi semua.

Penulis Andika Firnanda, S.Pd, M.H
Editor Putri Pitaloka

2 pemikiran pada “Penemuan Braille: Mengubah Kesulitan Menjadi Kemudahan Disabilitas Netra Dalam Belajar”

Tinggalkan komentar